Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1985, setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Tujuan dari peringatan hari kebangkitan nasional sesuai dengan Kepres Nomer 1 Tahun 1985 di dalam Pasal 1 bertujuan untuk
“Menumbuhkan dan meningkatan kesadaran Masyarakat untuk memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal harga diri dan kebanggan nasional, serta mempertebal jiwa persatuan dan kesatuan nasional”.
Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2026, yang bertepatan peringatan ke-118, mengangkat tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Dari tema tersebut, berfokus pada upaya kolektif seluruh elemen masyarakat untuk terus melindungi, merawat, dan mendidik generasi muda. Tunas muda ini dipersiapkan sebagai garda terdepan untuk menjaga dan memastikan keberlangsungan kedaulatan serta masa depan negara.
Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun ini, bukan sekadar momentum untuk menengok lini masa sejarah. Bagi generasi muda di Kabupaten Blitar, hari ini adalah alarm keras untuk terbangun dari tidur panjang kenyamanan digital. Ketika Boedi Oetomo pada tahun 1908 mengobarkan semangat lewat organisasi modern, maka hari ini, tantangan nyata di depan mata kita adalah musuh tak terlihat bernama Apatisme dan rendahnya literasi.
Di tengah riuhnya disinformasi dan fenomena “mager” membaca, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Blitar mengambil posisi tegas: Menolak Apatis! Manifesto ini bukan slogan kosong, melainkan sebuah panggilan aksi nyata melalui penggagasan “Gerakan Literasi Berkelanjutan.”
Sebagai daerah yang kaya akan nilai historis tempat bersemayamnya Sang Proklamator Bung Karno, dan megahnya Candi Penataran Kabupaten Blitar seharusnya menjadi kiblat peradaban pemikiran. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa tantangan pelajar di pelosok Blitar, mulai dari pesisir selatan Panggungrejo hingga lereng Gunung Kelud di Nglegok, hari ini mengalami pergeseran. Gawai di tangan para pelajar lebih sering menjadi candu hiburan instan ketimbang jendela ilmu. Di sinilah letak bahayanya: ketika pelajar menjadi apatis terhadap lingkungan sekitar dan malas memilah informasi, mereka sedang menggadaikan masa depan bangsa.
“Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan keberanian membaca realita sosial dan meresponsnya dengan aksi nyata.”
Mengapa harus di mulai dari IPNU IPPNU Kabupaten Blitar?
Sebab, organisasi ini adalah “Pembuluh Darah” yang efektif untuk mengalirkan virus literasi. Harkitnas ke-118 ini menjadi garis start baru. Pelajar Blitar harus keluar dari zona nyaman intelektual. Menolak apatis berarti peduli pada masa depan kabupaten ini. Melalui Gerakan Literasi Berkelanjutan, IPNU-IPPNU tidak hanya sedang merawat tradisi intelektual Nahdlatul Ulama, tetapi juga sedang melahirkan “Boedi Oetomo Baru” dari rahim Bumi Penataran.
Mari membaca, mari menulis, dan mari bangkit bersama untuk Blitar yang lebih cerdas dan bermartabat!
Penulis: M. Miftahussurur
Editor: Nanda Saniaroh


Leave a Comment