Fenomena ‘Alay’ yang meledak di tahun 2010-an sering kali hanya dilihat sebagai label dari gaya hidup norak anak muda kelas menengah bawah untuk naik kelas. Namun, jika kita menggunakan kacamata Ki Ageng Suryomentaram, Filsuf Jawa modern yang sangat sistematis, kita akan menemukan bahwa ‘Alay’ dan respons masyarakat terhadapnya adalah sebuah panggung dari pergolakan batin manusia. […]










