Sebuah Esai sejarah
Nasionalisme Sukarni: Persatuan sebagai Dasar Perjuangan
Salah satu fondasi utama dalam pemikiran nasionalisme Sukarni adalah gagasan mengenai persaudaraan dan persatuan sebagai kekuatan perjuangan. Bagi Sukarni, kemerdekaan tidak mungkin diwujudkan apabila perjuangan masih terfragmentasi oleh kepentingan kelompok dan identitas yang sempit. Keberagaman masyarakat Indonesia, baik dari segi suku, latar belakang sosial, pendidikan, maupun status kehidupan, seharusnya tidak dipandang sebagai sekat yang memisahkan, melainkan sebagai kekayaan yang dapat dipersatukan dalam satu cita-cita kebangsaan.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa nasionalisme Sukarni memiliki karakter yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan bersama. Persaudaraan tidak hanya dipahami sebagai hubungan antarkelompok, tetapi sebagai kesadaran bahwa setiap individu memiliki kedudukan dan tanggung jawab dalam membangun bangsa. Keberpihakan Sukarni kepada rakyat menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan harus melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Dengan demikian, nasionalisme tidak berhenti pada kecintaan terhadap tanah air, tetapi diwujudkan melalui kesediaan untuk membangun kebersamaan dan memperjuangkan kepentingan bangsa.
Gagasan tersebut menemukan bentuk konkretnya melalui keterlibatan Sukarni dalam Indonesia Muda. Organisasi ini menjadi salah satu ruang aktualisasi semangat Sumpah Pemuda 1928 yang berupaya mengatasi sekat-sekat kedaerahan dalam gerakan pemuda. Berbagai organisasi pemuda yang sebelumnya berkembang berdasarkan identitas daerah diarahkan menuju kesadaran yang lebih luas sebagai bagian dari satu bangsa, yaitu Indonesia.
Dari perjalanan tersebut, nasionalisme Sukarni dapat dipahami bukan sebagai upaya menghapus identitas lokal, melainkan mengangkat identitas lokal ke dalam kesadaran kebangsaan yang lebih luas. Sukarni lahir dan tumbuh di Garum, Blitar, tetapi gagasan dan perjuangannya tidak berhenti pada batas geografis daerah asalnya. Dari sebuah wilayah di Blitar, ia mampu membawa semangat perjuangan menuju ruang kebangsaan dan mengambil bagian dalam menentukan arah masa depan Indonesia.
Pemikiran tersebut tetap relevan bagi generasi muda pada masa kini. Di tengah masyarakat yang semakin beragam dan ruang sosial yang semakin terbuka, perbedaan identitas tidak semestinya menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, keberagaman harus ditempatkan sebagai modal sosial untuk membangun kerja sama, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa. Persatuan, dengan demikian, bukan berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan menyatukan perbedaan dalam tujuan yang sama.
Keberanian Mendobrak Status Quo
Nasionalisme Sukarni tidak hanya dibangun melalui gagasan tentang persatuan, tetapi juga melalui keberanian untuk mengambil sikap dan menghadapi keadaan yang dianggap menghambat cita-cita kemerdekaan. Ia merupakan sosok yang tidak sekadar menerima keadaan, tetapi berusaha membaca situasi dan mencari kemungkinan perubahan. Dalam kajian mengenai pemikirannya, Sukarni digambarkan sebagai tokoh yang kuat, militan, kreatif, serta memiliki keberanian untuk mendobrak status quo (kondisi atau keadaan yang berlaku pada saat itu) dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Keberanian tersebut telah terlihat sejak masa mudanya. Sukarni tidak menempatkan dirinya sekadar sebagai peserta dalam organisasi pemuda, tetapi berusaha menciptakan ruang perjuangan yang lebih terbuka. Ketika Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI) dinilai masih memiliki keterbatasan dalam menjangkau berbagai lapisan pemuda, ia mendirikan Persatuan Pemuda Kita sebagai ruang yang lebih terbuka bagi berbagai golongan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa bagi Sukarni, perjuangan kebangsaan tidak boleh menjadi milik kelompok tertentu, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan sebanyak mungkin unsur pemuda dan masyarakat.
Puncak keberanian politik Sukarni dan golongan muda dapat dilihat dalam peristiwa Rengasdengklok. Ketika Jepang mengalami kekalahan dan menyerah kepada Sekutu, para pemuda membaca keadaan tersebut sebagai momentum yang menentukan bagi masa depan Indonesia. Mereka mendesak agar Proklamasi Kemerdekaan segera dilaksanakan dan tidak bergantung pada keputusan maupun pemberian dari pihak Jepang. Bagi mereka, kemerdekaan harus lahir dari kehendak dan perjuangan bangsa Indonesia sendiri.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa keberanian Sukarni bukanlah keberanian yang lahir secara spontan tanpa dasar. Keberanian tersebut terbentuk melalui pengalaman panjang dalam organisasi, proses pembelajaran politik, serta kemampuan membaca perubahan situasi. Dengan kata lain, keberanian dalam diri Sukarni merupakan perpaduan antara pemikiran, pengalaman, dan keteguhan dalam mengambil keputusan.
Dalam konteks generasi muda saat ini, keberanian tersebut perlu diterjemahkan dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman. Perjuangan tidak lagi diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajahan fisik, tetapi melalui keberanian untuk berpikir kritis, menyampaikan gagasan, menghadapi persoalan sosial, melawan ketidakpedulian, serta mengambil tanggung jawab atas keadaan di sekitarnya. Menjadi pemuda yang nasionalis berarti tidak hanya mencintai bangsa dalam kata-kata, tetapi berani mengambil bagian dalam memperbaiki kehidupan bangsa.
Pendidikan dan Organisasi sebagai Ruang Kaderisasi
Bagi Sukarni, perjuangan nasional tidak dapat dilepaskan dari pendidikan dan proses kaderisasi generasi muda. Perjuangan menuju kemerdekaan membutuhkan manusia-manusia yang tidak hanya memiliki keberanian, tetapi juga memiliki pengetahuan, kesadaran politik, kemampuan berpikir, serta kesiapan untuk mengambil tanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan dan organisasi menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan perjuangan.
Salah satu gambaran mengenai hal tersebut terlihat ketika Sukarni berada dalam persembunyian di Pondok Pesantren Plososemine, Kediri. Di tempat tersebut, ia memberikan pendidikan politik dan bahasa Belanda kepada para santri dan santriwati. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bagi Sukarni bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran dan mempersiapkan generasi agar mampu memahami keadaan sosial-politik di sekitarnya.
Semangat kaderisasi juga tampak dalam aktivitas Sukarni di Asrama Pemuda Menteng Raya 31. Asrama tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai pemuda dengan latar belakang yang berbeda. Di dalamnya berkembang proses diskusi, pertukaran gagasan, pembentukan kesadaran politik, serta persiapan menghadapi kemungkinan perubahan besar bagi Indonesia.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari ruang yang kosong. Di balik sebuah peristiwa sejarah terdapat proses panjang berupa pendidikan, diskusi, organisasi, pembentukan karakter, dan kaderisasi. Sukarni menunjukkan bahwa pemuda harus dipersiapkan bukan hanya untuk menjadi pelaksana, tetapi juga untuk menjadi penggerak perubahan.
Dalam konteks kekinian, organisasi pelajar memiliki posisi strategis untuk meneruskan semangat tersebut. Organisasi tidak semestinya hanya menjadi ruang untuk menjalankan agenda administratif atau kegiatan seremonial, tetapi harus berkembang menjadi ruang pembelajaran, pembentukan karakter, pengembangan intelektualitas, dan latihan kepemimpinan.
Pelajar perlu dibentuk menjadi generasi yang mampu membaca persoalan di lingkungannya, menyusun gagasan berdasarkan pengetahuan, membangun solidaritas, serta menghadirkan tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, organisasi pelajar tidak hanya menghasilkan individu yang aktif dalam kegiatan, tetapi juga melahirkan kader yang memiliki kesadaran kebangsaan dan keberanian untuk mengabdi.
Pada titik inilah pemikiran Sukarni menemukan relevansinya. Pendidikan melahirkan kesadaran, organisasi membentuk kemampuan bergerak, dan keberanian mengubah kesadaran tersebut menjadi tindakan. Ketiganya merupakan fondasi penting bagi generasi muda untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan dalam bentuk perjuangan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Penulis: Muchammad Miftahussurur
Editor: Nanda Saniaroh


Leave a Comment