Fenomena ‘Alay’ yang meledak di tahun 2010-an sering kali hanya dilihat sebagai label dari gaya hidup norak anak muda kelas menengah bawah untuk naik kelas. Namun, jika kita menggunakan kacamata Ki Ageng Suryomentaram, Filsuf Jawa modern yang sangat sistematis, kita akan menemukan bahwa ‘Alay’ dan respons masyarakat terhadapnya adalah sebuah panggung dari pergolakan batin manusia.
Suryomentaram menjelaskan bahwa manusia digerakkan oleh naluri emosional atau keinginan yang cenderung mencari yang lebih tanpa batas. Dalam ruang digital atau tren pop, keinginan ini mewujud dalam kebutuhan akan validasi.
Sebagai contoh gaya berpakaian yang mencolok adalah upaya manusia untuk merasa bahwa ia ada dan dianggap. Namun, Suryomentaram mengingatkan bahwa jika kita hanya menuruti naluri emosional ini, kita tidak akan pernah sampai pada level manusia yang rasional. ‘Alay’ dalam konteks ini adalah ekspresi dari karep yang terstimulus oleh narasi kebudayaan, yang jika tidak dikendalikan, membuat individu kehilangan visi utuhnya karena terus-menerus mengejar pengakuan eksternal.
Stigma ‘Alay’ sebagai Manifestasi Unggul-Unggulan.
Salah satu poin paling tajam dari Kawruh Jiwa adalah konsep Unggul-Unggulan (saling mengungguli). Ketika masyarakat melabeli sekelompok orang sebagai Alay, kampungan, atau norak, sebenarnya sedang terjadi relasi ego yang tidak sehat.
Si pelabel merasa lebih keren atau berkelas (unggul).
Si terlabel berusaha keras menyamai tren agar tidak dianggap rendah.
Suryomentaram melihat ini sebagai level rendah dalam relasi sosial. Alih-alih mencapai derajat Mulyake (saling memuliakan/mengenakkan), kita justru terjebak dalam kompetisi rasa yang melelahkan. Pelabelan ‘Alay’ adalah cara ego kita untuk mendisiplinkan orang lain agar sesuai dengan standar kita, bukan cara kita mendisiplinkan diri sendiri.
Di sinilah relevansi Suryomentaram sebagai pemikir transisi yang modern. Suryomentaram menawarkan Rasio sebagai fakultas mental untuk melakukan pendisiplinan diri.
Dalam menghadapi gempuran tren (mulai dari Alay hingga Skena, atau apalah bahasa lainnya itu), Suryomentaram menuntut kita untuk pendayagunaan metakognitif, kemampuan untuk berpikir atas apa yang kita pikirkan. Sebelum mengejek orang lain ‘Alay’, atau sebelum kita mati-matian mengikuti tren agar dianggap Kalcer, Kece, atau Keren kita perlu mengambil jarak.
Kita harus bertanya secara skeptis: “Apakah ini kebutuhan alamiah saya, atau sekadar kemauan ego yang haus akan validasi?”
Menuju Relasi yang “Saling Mengenakkan”.
Kawruh Jiwa menawarkan solusi etis bagi kekacauan identitas ini: Saling Mengenakkan. Relasi yang ideal bukanlah yang eksploitatif atau hegemonik (seperti standar ‘keren’ ala Barat yang sering membuat kita merasa inferior).
Jika kita menerapkan prinsip etik Suryomentaram sebagai filter, kita tidak akan lagi melihat pilihan gaya hidup orang lain sebagai ancaman atau bahan ejekan. Begja (Kebahagiaan) yang kolektif dimulai dari individu yang berhasil menjinakkan karep-nya sendiri.
‘Alay’ bukan sekadar fenomena sosiologis, melainkan pengingat akan pentingnya aktivasi gagasan warisan leluhur. Di tengah dunia yang serba Digital dan serba instan, kita mengalami defisit kognitif di mana orientasi kita selalu pada agensi luar.
Kawruh Jiwa mengajak kita kembali menjadi subjek yang berdaulat. Dengan mawas diri, kita tidak akan lagi terjebak pada trauma psikologis kolonial yang membuat kita merasa inferior di hadapan pengetahuan Barat, atau merasa superior di hadapan mereka yang kita sebut ‘Alay’. Menjadi modern bagi Suryomentaram bukan berarti memakai baju Barat, melainkan keberhasilan rasio dalam mendisiplinkan rasa demi tatanan dunia yang lebih harmonis.
Oleh: Rega Ikhsannova, Sang Pujangga yang mencari Jati Dirinya (Lagi)
Editor: Nanda Saniaroh


Leave a Comment