Blitar — Dalam rangka mempererat ukhuwah pasca Hari Raya Idulfitri, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Wonotirto menggelar kegiatan Anjangsana Syawal pada Sabtu (28/03/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antar kader, alumni, serta tokoh masyarakat, sekaligus ruang refleksi atas tantangan organisasi ke depan.
Kegiatan dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan titik kumpul di rumah Ketua PAC IPPNU Wonitirto, Rekanita Afifi. Seluruh peserta hadir dengan dresscode rapi sesuai identitas organisasi, yakni jas IPNU dan IPPNU, sebagai simbol kekompakan dan kedisiplinan kader. Anjangsana ini mengunjungi sejumlah tokoh dan kader di berbagai wilayah yang tersebar di Desa Tambakrejo, Sumberboto, Ngeni, Gununggede, dan sekitarnya.
Dalam kunjungan tersebut, isu penting terkait kaderisasi mengemuka. Ketua IPNU, Rijal Muhaimin, menyampaikan bahwa saat ini organisasi menghadapi tantangan serius berupa sulitnya mencari kader baru.
“Minimnya minat generasi muda untuk berorganisasi, serta padatnya kesibukan pribadi,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Fatayat, Sahabati Atina, yang mengungkapkan bahwa kondisi serupa terjadi di tubuh Fatayat. Ia menjelaskan bahwa kesulitan dalam mencari kader dipengaruhi oleh banyaknya anggota yang telah disibukkan dengan urusan rumah tangga, khususnya dalam mengurus anak dan keluarga.
Selain itu, dalam kunjungan ke Bu Sholikah, Ketua Muslimat, terjadi dialog menarik ketika Ketua IPNU, Rijal Muhaimin, menanyakan asal distribusi air mineral yang bertuliskan “untuk kalangan sendiri”. Dijelaskan bahwa bantuan tersebut berasal dari PC Muslimat yang kemudian didistribusikan ke tingkat PAC untuk dibagikan ke ranting-ranting.

Di sisi lain, suasana reflektif juga terasa saat kunjungan ke Bu Nuria. Dalam perbincangan, Suami Bu Nuria, Pak Bandi menyampaikan kritik sosial yang mendalam, “zaman sekarang banyak sekali tontonan dadi tuntutan, tuntutan dadi tontonan,” menggambarkan kondisi masyarakat yang kerap terjebak dalam kebingungan antara hiburan dan nilai. Ia menutup dengan pesan bijak, “bejo-bejone wong kang eleng lan waspodo,” sebagai pengingat pentingnya kesadaran dan kewaspadaan dalam kehidupan.
Secara keseluruhan, Anjangsana Syawal ini bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang dialog lintas generasi yang sarat makna. Di tengah tantangan kaderisasi dan dinamika sosial, kegiatan ini menegaskan kembali pentingnya menjaga nilai kebersamaan, loyalitas, dan semangat perjuangan dalam tubuh IPNU-IPPNU.
Penulis: Ubaid Dimas Romandhan


Leave a Comment