BLITAR – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Blitar menyatakan berdiri bersama Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Timur dalam penyelenggaraan Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) yang digelar menjelang Kongres Pimpinan Pusat (PP) IPNU. PC Blitar menilai bahwa PW telah menjalankan forum sesuai aturan main organisasi, dan meminta seluruh kader menjaga kekompakan Jawa Timur di hadapan forum nasional.
Ketua PC IPNU Kabupaten Blitar, Much Miftahussurur, menyampaikan sikap itu berdasarkan keterlibatan langsung dalam Rapimwil tahap pertama yang digelar Sabtu (31/10/2026) di Aula lantai 3 Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Forum lanjutan dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Bangkalan.
Sebagaimana diberitakan NU Online Jatim, Rapimwil ini menjadi ajang konsolidasi pimpinan daerah se-Jawa Timur, menuju Kongres PP IPNU di Kendal, Jawa Tengah, pada November 2026. Sejumlah rekomendasi mengemuka untuk diperjuangkan di kongres, mulai dari pembenahan Mars IPNU, penguatan pendampingan Pimpinan Komisariat (PK), pendampingan hukum bagi kader dan organisasi, hingga pembaruan buku kaderisasi.
Menurut Miftahussurur, forum yang membahas agenda sebesar itu memang wajar diwarnai perbedaan pendapat. Namun ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut disalurkan di tempat yang benar, yakni di ruang sidang, dan PW memfasilitasinya sesuai ketentuan.
“Kami ikut sidang dari awal. Cabang diberi kesempatan, pimpinan sidang menanggapi, dan semua berlangsung di depan peserta. Kalau ukurannya aturan main organisasi, PW sudah menjalankannya. Tidak ada yang perlu diragukan dari cara forum ini dikelola,” ujar Miftahussurur, Sabtu (7/11/2026).
Forum Lanjutan Adalah Jalur yang Sah. Miftahussurur menilai keputusan PW melanjutkan pembahasan ke Bangkalan sebagai langkah konstitusional yang patut dihormati. Menurutnya, forum lanjutan adalah jalur yang sah bagi cabang yang masih ingin menyampaikan pandangan, sehingga tidak ada alasan membawa persoalan ke luar ruang sidang.
“Jalurnya sudah disediakan, ada forum lanjutan di Bangkalan. Siapa yang punya gagasan, silakan disampaikan di sana. Kalau jalur resmi tidak dipakai lalu memilih bersuara di luar, patut dipertanyakan apa yang sebenarnya dicari,” tegasnya.
Organisasi di Atas Kepentingan Kelompok. Lebih jauh, Miftahussurur mengingatkan bahwa kontestasi tiga tahunan tidak boleh membuat kader lupa pada kepentingan yang lebih besar. Kader IPNU, kata dia, berhimpun untuk organisasi dan pelajar, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.
“Pilihan boleh berbeda, dukungan boleh berbeda, tapi kesetiaan kita hanya satu, yaitu kepada organisasi. Begitu forum memutuskan, tidak ada lagi kubu-kubuan. Yang tersisa hanya tanggung jawab untuk mengawal keputusan itu,” katanya.
Jatim Barometer di Kendal. Miftahussurur menegaskan bahwa Jawa Timur selalu menjadi perhatian dalam setiap kongres. Karena itu, kekompakan kader Jatim menjadi taruhan nama baik bersama. Perpecahan di rumah sendiri, menurutnya, hanya akan melemahkan posisi Jawa Timur ketika membawa gagasan ke forum nasional.
“Di Kendal nanti, Jatim membawa gagasan untuk kader seluruh Indonesia. Bagaimana kita mau didengar kalau di rumah sendiri saling serang? Marwah Jatim dijaga dari sekarang, dengan kompak, dengan adab, dan dengan menghormati forum,” pungkasnya.
Kontributor: Farid Adrian
Editor: Nanda Saniaroh


Leave a Comment