Bulan puasa selalu punya ritmenya sendiri. Tahun ini, saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan yang jujur saja, seru banget. Namanya Ngaji Posonan, bertempat di Pondok Budaya Pesantren Kaliopak, Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat ini bukan sekadar pondok biasa, budayanya sangat kental, menyatu dengan alam dan kearifan lokal.
Rutinitas di sana cukup padat. Setiap ba’da Subuh, kami mengaji kitab Aqidatul Awam bersama pengasuh pondok, Kyai M. Jadul Maula. Beliau ini sosok yang menurut saya luar biasa keren, seorang pemikir, budayawan, dan penulis buku Islam Berkebudayaan.
Mari kita bicara jujur, setelah malamnya diisi dengan diskusi panjang yang kadang baru bubar jam 12 malam, duduk bersila mendengarkan kajian di jam 5 pagi adalah sebuah ujian berat melawan rasa kantuk. Saya sering sekali ketiduran. Bukan karena pembahasannya tidak menarik, sungguh. Kajian beliau selalu berbobot, tapi rasa kantuk ini kadang tak bisa diajak kompromi.
Namun, ada satu pagi yang membuat mata saya terbelalak dan kantuk saya sirna seketika. Pagi itu, Pak Yai Jadul membawa kami keluar dari teks kitab sejenak dan menyelam ke dalam kisah epik pewayangan Jawa. Beliau menceritakan sebuah kisah kuno yang, tanpa saya sadari saat itu, adalah sebuah ramalan akurat tentang masa depan peradaban kita.
Kisah tentang Cupu Manik Astagina.
Kisah ini berpusat pada sebuah benda pusaka bernama Cupu Manik Astagina. Ini bukan sembarang wadah, siapapun yang membuka tutupnya, ia bisa melihat seluruh peristiwa yang terjadi di alam semesta, tanpa batas ruang dan waktu.
Keberadaan benda ini bermula dari kisah asmara antara dewa dan manusia. Dewi Indradi, seorang perempuan keturunan bidadari yang kecantikannya tiada tara. Bahkan, jika saya hidup di zaman itu, rasanya saya pun akan ikut terkesima dan memperebutkannya. Karena parasnya itulah, dua tokoh sakti, Prabu Gajendramuka dan Resi Gotama, bersaing untuk mendapatkannya.
Dewi Indradi yang bimbang akhirnya berjanji, ia akan menikahi Resi Gotama jika resi tersebut berhasil mengalahkan Prabu Gajendramuka. Peperangan pun pecah.
Di saat kedua pria itu sedang bertaruh nyawa demi dirinya, Batara Surya, yang diam-diam menaruh hati pada Dewi Indradi, turun ke bumi menyerupai wujud Resi Gotama. Terperdaya oleh wujud dan rayuan sang Dewa, Dewi Indradi pun memadu kasih dengannya.
Sebelum kembali ke khayangan, Batara Surya menunjukkan wujud aslinya, membuat sang Dewi terkejut bukan main. Sebagai tanda cinta, Batara Surya memberikan sebuah hadiah luar biasa, Cupu Manik Astagina. Sang Dewa berpesan dengan tegas, benda itu harus diwariskan hanya kepada anak sulungnya kelak, dan tidak boleh ada satu orang pun yang mengetahuinya.
Singkat cerita, Resi Gotama yang asli kembali dengan membawa kemenangan. Sesuai janji, Dewi Indradi menikah dengannya. Dari pernikahan itu, lahirlah tiga orang anak: Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa. Bertahun-tahun hidup bersama, rahasia tentang keberadaan Cupu Manik Astagina itu tersimpan rapat.
Waktu berlalu. Tiba saatnya Dewi Indradi mewariskan pusaka tersebut kepada anak sulungnya, Dewi Anjani, dengan peringatan keras agar merahasiakannya dari ayah dan kedua adiknya.
Namun, yang namanya rahasia di tangan anak-anak, pada akhirnya akan bocor juga. Saat Anjani sedang asyik bermain dan memandangi keajaiban alam semesta melalui Cupu Manik tersebut, Subali dan Sugriwa memergokinya. Takjub melihat kehebatan benda itu, kedua adiknya merengek meminta. Keributan dan perebutan pusaka pun tak terelakkan.
Suara gaduh anak-anak ini terdengar oleh ayah mereka, Resi Gotama, yang sedang bertapa. Mengetahui ada benda sakti dari khayangan di tangan istrinya, Resi Gotama murka. Ia tahu istrinya telah berkhianat. Dalam kemarahannya, Resi Gotama merampas benda itu dan membuangnya jauh-jauh ke dalam Telaga Sumala.
Ketiga anaknya yang sudah terlanjur terobsesi dengan kehebatan Cupu Manik Astagina, nekat mengejar benda itu. Subali dan Sugriwa yang larinya lebih cepat, tiba lebih dulu di Telaga Sumala. Tanpa pikir panjang, mereka langsung melompat dan menyelam ke dasar telaga. Dewi Anjani yang datang terlambat dan kelelahan, hanya duduk di tepi telaga, membasuh wajah dan tangannya dengan air tersebut.
Di saat itulah, kutukan terjadi. Air Telaga Sumala mengubah wujud siapapun yang menyentuhnya dengan ambisi buta. Subali dan Sugriwa yang menyelam sepenuhnya, seketika berubah wujud menjadi kera dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sementara Dewi Anjani yang hanya membasuh muka dan tangan, bagian wajah dan lengannya pun berubah menjadi kera.
Masa depan mereka hancur, wujud mereka berubah menjadi binatang, hanya karena memperebutkan sebuah benda yang bisa melihat isi dunia.
Di sinilah letak kegeniusan pemikiran Pak Yai Jadul yang membuat bulu kuduk saya merinding pagi itu.
Betapa jauhnya pemikiran para pujangga Jawa kuno pencipta kisah ini. Mereka berani melampaui kelaziman zamannya, membayangkan sebuah benda kecil di genggaman tangan yang mampu menampilkan seluruh kejadian di belahan dunia lain. Pada masa itu, hal tersebut adalah murni fiksi, sihir, dan mitologi.
Namun hari ini? Cupu Manik Astagina itu ada di saku celana kita semua.
Kita menyebutnya Smartphone, Gawai, atau Ponsel Pintar. Benda yang dulunya tak terjangkau nalar, kini menjadi kebutuhan primer umat manusia. Melalui layar sentuh selebar telapak tangan, kita bisa melihat seluruh kejadian di alam semesta.
Lebih jauh lagi, gawai masa kini bahkan melebihi keajaiban pusaka khayangan tersebut. Kita bisa membeli barang tanpa keluar rumah, berbicara dengan orang di benua lain secara langsung, belajar apa saja, hingga mendapatkan hiburan tanpa batas. Ia menghemat waktu, memangkas jarak, dan meniadakan batas-batas fisik. Keajaiban telah menjadi sesuatu yang banal dan lazim di era milenial dan Gen Z ini.
Namun, mari kita kembali pada filosofi kisah di atas. Keberadaan Cupu Manik Astagina pada akhirnya justru membawa malapetaka dan mengubah manusia menjadi primata. Mengapa? Karena benda sakti itu jatuh ke tangan pihak yang tidak siap secara mental dan spiritual.
Bukankah hal ini sangat relatable dengan kondisi kita sekarang?
Gawai adalah pedang bermata dua. Di satu sisi ia membuka jendela dunia, namun di sisi lain, ia adalah jurang tanpa dasar. Jika berada di tangan yang salah atau di tangan kita sendiri saat sedang kehilangan kendali, benda ini bisa menghancurkan.
Kita dihadapkan pada tsunami informasi yang tak terfilter. Hoaks, konten menyesatkan, adu domba, hingga hiburan yang meracuni pikiran berbaur menjadi satu.
Akan menjadi sangat berbahaya jika Cupu Manik ini diberikan secara bebas kepada anak-anak di bawah umur yang belum memiliki kemampuan sebagai selective audience. Layaknya Subali dan Sugriwa yang melompat ke dalam telaga tanpa tahu akibatnya, anak-anak yang dibiarkan menyelam sendirian di lautan internet tanpa bimbingan bisa berubah karakternya. Mereka hanya tahu, melihat, dan meniru. Mereka bisa kehilangan empati, adab, dan kemanusiaannya, persis seperti metafora manusia yang berubah wujud menjadi kera.
Lalu, bagaimana kita harus bersikap? Haruskah kita membuang gawai kita seperti Resi Gotama membuang pusaka itu? Tentu saja tidak. Kita tidak bisa menolak peradaban.
Di sinilah saya teringat kembali pada salah satu wejangan Pak Yai Jadul di hari yang lain. Beliau pernah mengutip sebuah filosofi luhur dari Sunan Kalijaga:
“Anglaras Ilining Banyu, Angeli Ananging Ora Keli.”
Yang memiliki arti: Menyesuaikan diri dengan aliran air, mengalir bersamanya, tetapi tidak ikut hanyut terbawa arus.
Ini adalah jawaban paling paripurna untuk menghadapi era digital. Kita harus mengalir bersama zaman. Kita berhak memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mempermudah hidup, mendukung profesi, dan memperluas wawasan. Namun, kita tidak boleh hanyut.
Tidak hanyut berarti kita memiliki jangkar berupa prinsip, moral, dan nalar kritis. Kita tidak menelan mentah-mentah apa yang kita lihat di layar. Kita harus belajar menjadi manusia yang selektif.
Kemampuan untuk memilah dan memilih ini harus dilatih sejak dini, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk generasi di bawah kita. Jangan biarkan layar gawai mendikte siapa diri kita. Kita harus menjadi tuan atas teknologi, bukan menjadi budaknya. Jangan sampai, di era di mana teknologi mencapai puncak kecanggihannya, kemanusiaan kita justru mengalami kemunduran karena kita gagal mengendalikan ambisi dan hawa nafsu.
–
“Oh ya, sebagai penutup, aku minta maaf ya kalau ceritanya ada yang kurang lengkap atau mungkin ada detail yang sedikit meleset. Jujur saja, waktu dengerin kisah sekeren ini, aku lagi berjuang mati-matian nahan ngantuk sisa diskusi semalaman, hehe. Sebenarnya masih banyak banget kisah epik lainnya dan hal-hal unik di Pesantren Kaliopak yang pengen aku bahas. Tapi kalau kutulis semua di sini, takutnya malah jadi kepanjangan dan bikin kalian ikut ngantuk. Jadi, buat kalian yang penasaran pengen tahu kelanjutannya atau mau ngobrol lebih jauh soal ini, boleh kok buat tanya-tanya langsung ke aku, ya.”
Penulis: Rega Ikhsannova
Editor: Ubaid Dimas
–


Leave a Comment