Blitar, Februari 2026 — Ada sebuah kutipan tak tertulis di antara debu jalanan: “Dunia tidak kekurangan orang pintar, ia kekurangan mereka yang mau mengotori tangan demi nyawa sesama.”
Pada pergantian Januari menuju Februari 2026, Kecamatan Doko menjadi saksi bisu lahirnya para militan kemanusiaan. Di bawah atap SDN Sidorejo 1, DKC CBP KPP Kabupaten Blitar tidak sedang melakukan simulasi biasa. Mereka sedang melakukan dekonstruksi diri, menanggalkan ego pribadi untuk menjadi perisai bagi umat.
Kegiatan dibuka pada 31 Januari pukul 16.00 WIB. Registrasi bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan pendaftaran diri sebagai khidmah tanpa batas. Saat malam merayap naik, sesi Makrab (Malam Keakraban) digelar.
Namun, jangan bayangkan tawa kosong. Di sinilah wajah-wajah baru pengurus DKC CBP-IPNU dan KPP-IPPNU Kabupaten Blitar masa khidmat 2025-2027 diperkenalkan.
Ini adalah momentum penyatuan denyut nadi. Antara pengurus dan kader, tak ada sekat. Mereka melebur, menyadari bahwa struktur organisasi hanyalah raga, dan semangat pengabdian adalah nyawanya.
Fajar 1 Februari pecah di kaki Gunung Kawi. Sinar matahari pagi menelusup di antara rimbunnya pepohonan saat para kader melakukan senam dan longmarch. Jalan-jalan ini bukan rekreasi kaum borjuis; ini adalah cara mereka mencintai tanah air melalui tapak kaki.
Lalu, tibalah pada substansi yang menggetarkan: Materi PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat). Dipandu oleh sang “Singa Betina” organisasi, Rekanita Ira Wahyu Lestari (Demisioner Komandan DKC KPP-IPPNU 2019-2021), suasana berubah tegang namun edukatif. Peserta dilempar ke dalam realitas:
Bagaimana jika aspal jalanan bersimbah darah karena kecelakaan?
Bagaimana jika tubuh manusia membeku dihantam hipotermia di puncak gunung?
Di sini, teori adalah sampah jika tak dipraktik kan. Dengan tangan gemetar namun tekad baja, para kader melakukan simulasi evakuasi. Mereka belajar bahwa selisih satu detik dalam PPGD adalah batas antara napas dan nisan.
Kehadiran Ketua PC IPNU-IPPNU, Rekan Surur dan Rekanita Erla, memberikan legitimasi spiritual. Mereka hadir bukan sebagai penonton, tapi sebagai saksi bahwa di pundak CBP-KPP, panji-panji kemanusiaan Nahdlatul Ulama akan tetap berkibar. Apresiasi mereka adalah bukti bahwa gerakan ini berada pada rel yang benar: Kritis dalam berpikir, taktis dalam bekerja.
Di penghujung acara sebelum gema Sayonara melirih pada pukul 12.00 WIB, M. Febi Fermansah, Komandan DKC CBP Kabupaten Blitar 2025-2027, memberikan pernyataan yang menghujam jantung organisasi:
“Selain untuk menambah pengalaman dan juga pengetahuan kader CBP KPP, kami harap kegiatan ini juga untuk mempererat tali silaturahmi di lingkup kader CBP KPP,” ungkapnya.

Kalimat ini adalah pengingat: Ilmu tanpa silaturahmi adalah kesombongan, dan silaturahmi tanpa ilmu adalah kelemahan. LATSUS Doko telah berhasil menyatukan keduanya.
LATSUS ini membuktikan bahwa CBP KPP Kabupaten Blitar tidak terjebak dalam romantisme masa lalu. Mereka bergerak maju, membekali kader dengan hard skill medis yang mumpuni di tengah tantangan zaman yang kian tak menentu.
Penulis: Oseng Tromol A.K.A Rega IkhsannovaSang Pujangga Yang Sedang Mencari Jati Dirinya (Lagi dan Lagi)


Leave a Comment