Di sebuah titik koordinat yang mungkin tak terbaca oleh radar kota—Desa Tulungrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar—sebuah anomali sosial sedang merawat nyalinya. Di sana, di antara hamparan sawah dan aroma tanah, terdapat sebuah episentrum kecil bernama Plonto Gank.
Jangan salah sangka. Plonto Gank bukan sebuah upaya makar organisasi, bukan pula “wadah di dalam wadah” yang ingin memecah belah kekhidmatan IPNU-IPPNU. Sebaliknya, ia adalah ruang evakuasi bagi pikiran-pikiran yang terlalu liar untuk sekadar dikurung dalam ruang rapat yang pengap. Ia adalah tempat di mana kader-kader muda ini melepas kopiah formalnya sejenak, hanya untuk memastikan bahwa di bawah kepala itu, otak mereka masih bekerja dengan tajam.
Plonto Gank bergerak dalam ritme yang mereka sebut sak wayah-wayah. Sebuah konsep waktu yang anarkis bagi mereka yang memuja efisiensi, namun sangat manusiawi bagi mereka yang memuja proses. Di markas ini, kegiatan tidak lahir dari instruksi atasan, melainkan dari kegelisahan yang memuncak saat gelas kopi mulai menyentuh ampasnya.
Di sini, literasi bukan sekadar membaca kata, tapi membedah dunia. Bayang-bayang pemikiran besar hadir secara tersirat di sela-sela diskusi. Kadang, mereka tenggelam dalam romansa sejarah yang getir, bicara tentang kemanusiaan, hingga filsafat-filsafat yang sering dianggap tabu namun dibahas dengan kepala dingin. Mereka bisa mendiskusikan kemurnian akhlak para Nabi di satu jam, lalu di jam berikutnya, mereka dengan serius membedah taktik memancing ikan yang presisi—sebuah metafora tentang bagaimana manusia harus bersabar menghadapi nasib yang seringkali sulit ditebak.
Keliaran intelektual ini tidak akan memiliki pelabuhan jika bukan karena kebesaran hati Ketua RT 2. Beliau mendedikasikan rumahnya bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai rahim bagi gagasan-gagasan muda. Di tengah suara berisik diskusi dan kepulan asap rokok, sang Ketua RT berdiri sebagai pilar pendukung yang tak tergoyahkan.
Beliau pernah berucap dengan nada yang begitu membumi, sebuah kalimat yang kini menjadi piagam tak tertulis bagi Plonto Gank:
“Yaa yang penting selagi kegiatan kalian positif insyaallah saya siap mendukung seratus persen.”
Dukungan ini adalah tameng. Ia membuktikan bahwa masyarakat desa, dalam kesederhanaannya, jauh lebih terbuka terhadap dialektika daripada mereka yang mengaku terpelajar namun berhati sempit.
Apa yang membuat Plonto Gank tetap memijak bumi di tengah diskusi yang melangit? Adalah distorsi gitar yang kasar dan lirik-lirik tajam dari jagat punk rock. Lagu-lagu dari Marjinal seringkali menjadi penutup atau pembuka bagi ritual cangkruk mereka. Salah satu cuplikan lagu paling ikonik yang selalu bergema di sana adalah:
“Hukum adalah lembah hitam,
Tak mencerminkan keadilan,
Pengacara juri hakim jaksa,
Masih ternilai dengan angka…”
(Marjinal – Hukum Rimba)
Lirik ini adalah pengingat bagi setiap kader IPNU-IPPNU di sana: bahwa di luar sana ada ketimpangan, dan pengetahuan yang mereka dapatkan dari tumpukan buku itu harus menjadi senjata untuk membela yang lemah, bukan sekadar hiasan di rak perpustakaan.
Kini, seluruh keriuhan itu sedang berusaha dikristalkan. Salah satu anggota Plonto Gank tengah merampungkan sebuah buku yang diberi judul “CATATAN JUANG KADER IPNU”. Sang penulis, dengan gaya bicara yang sarkas, menyebut buku ini hadir untuk menemani “kegabutan” rekan-rekannya.
Meskipun ia sendiri mengakui ceritanya “sedikit ngawur”, namun bukankah kejujuran seringkali datang dalam bungkusan yang tampak berantakan? Buku ini adalah potret perjuangan yang tidak jaim, yang tidak melulu soal teori, tapi soal tawa, kopi, dan cara bertahan hidup di tengah dunia yang makin gila.
Plonto Gank adalah sebuah pengingat: Bahwa untuk menjadi kader yang baik, kau tidak harus selalu kaku. Kadang, kau hanya perlu sedikit kopi, satu joran pancing, beberapa buku, dan musik punk rock yang keras untuk menyadari bahwa kau masih hidup.
Oleh: Oseng Tromol A.K.A Rega Ikhsannova, Seorang Pujangga Yang Sedang Mencari Jati Dirinya (Lagi)


Leave a Comment