Wates, 4 Maret 2026 – Di bawah naungan langit Maret yang mulai meluruhkan panasnya, sebuah ikhtiar suci sedang diasah. Selama dua hari, tepatnya pada 3–4 Maret 2026, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Wates mengambil peran bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai fasilitator jiwa dalam agenda Pondok Ramadhan yang digelar di dua panggung pendidikan: SDN Tulungrejo 02 dan SDN Ringinrejo 02.
Bukan sekadar formalitas Pondok Ramadhan, kehadiran para pelajar NU ini adalah bentuk pengejawantahan filosofi luhur Sunan Kalijaga: ngeli nanging ora keli. Sebuah ajakan untuk berani mengikuti arus zaman modernitas, namun pantang untuk hanyut dan kehilangan jati diri sebagai manusia yang beradab.
Materi yang disuguhkan bukan sekadar hafalan. Adab dan akhlak dibahas sebagai seni menghargai sesama. Di sisi lain, isu bullying dikuliti sebagai penyakit hati yang harus disembuhkan dengan kasih sayang. Melalui materi kepemimpinan dan Indahnya Berbagi, siswa diajak untuk menjadi subjek, bukan sekadar objek dari derasnya arus informasi.
Ini adalah strategi “Kaderisasi Dini” yang cerdas. IPNU-IPPNU tidak datang dengan doktrin yang berat, melainkan dengan teladan. Mereka masuk ke ruang-ruang kelas untuk memastikan bahwa adik-adik di Wates tidak “keli” (hanyut) oleh budaya kekerasan dan individualisme yang kian marak.
Rivaldo Eka, Ketua PAC IPNU Wates yang hadir dengan semangat membara, menegaskan bahwa peran fasilitator adalah menjadi kompas bagi adik-adiknya.
“Zaman ini memaksa kita untuk terus bergerak (ngeli), tapi jangan sampai kita kehilangan pegangan (ora keli). Di SDN Tulungrejo dan Ringinrejo ini, kami ingin menanamkan bahwa menjadi pelajar itu harus adaptif, tetapi tetap punya prinsip. Kami tidak ingin mereka pintar secara otak, tetapi buta secara watak,” tegas Rivaldo.
Resonansi serupa datang dari Surabaya. Jenissa Nurul Rahma, Ketua PAC IPPNU Wates yang sedang menimba ilmu di Kota Pahlawan, memberikan pandangannya.
“Jarak Surabaya–Wates mungkin membentang, namun khidmat tak mengenal sekat. Meski saya berada di Surabaya, jiwa saya ada di antara tawa adik-adik di Wates. Kita sedang membangun benteng pertahanan terakhir, yaitu akhlak. Saya ingin mereka tumbuh menjadi bunga yang harumnya bisa dinikmati siapa saja, namun akarnya tetap menghujam kuat pada tradisi dan cinta kasih,” tutur Jenissa dengan penuh harap.
Dua hari di awal Maret ini mungkin akan terlupa oleh kalender pendidikan yang padat, namun benih yang ditanam oleh IPNU-IPPNU Wates di hati para siswa SDN Tulungrejo 02 dan SDN Ringinrejo 02 akan terus berkecambah.
Kegiatan ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa menjadi relevan tidak harus menjadi asing. Kita bisa mengikuti zaman, kita bisa berteman dengan teknologi, tetapi kita harus tetap punya akar yang kuat. Karena hanya pohon yang berakar kuatlah yang mampu bertahan saat badai datang menerjang.
Penulis: Rega Ikhsannova, (Seorang Pujangga yang sedang mencari cinta-nya)


Leave a Comment